Teknik Hidroponik Rakit Apung, Solusi Hemat untuk Pertanian Modern
Seiring berjalannya waktu, metode hidroponik terus berkembang, dan salah satu inovasinya adalah sistem hidroponik rakit apung. Prinsipnya tetap sama, yaitu bercocok tanam tanpa menggunakan tanah, tetapi dengan pertumbuhan tanaman yang cepat dan optimal.
Seiring berjalannya waktu, metode hidroponik terus berkembang, dan salah satu inovasinya adalah sistem hidroponik rakit apung. Prinsipnya tetap sama, yaitu bercocok tanam tanpa menggunakan tanah, tetapi dengan pertumbuhan tanaman yang cepat dan optimal. Jika Anda sudah familiar dengan sistem hidroponik wick, sistem rakit apung ini memiliki kesamaan konsep. Perbedaannya terletak pada penggunaan styrofoam yang mengapung di atas air sebagai tempat menanam tanaman.
Hidroponik dengan system Rakit Apung
Apa itu sistem hidroponik rakit apung?
Hidroponik rakit apung, juga dikenal sebagai Floating Raft system adalah salah satu sistem hidroponik yang menggunakan kolam air sebagai wadah, dengan styrofoam atau material serupa sebagai rakit yang menjaga tanaman tetap mengapung. Rockwool dan netpot digunakan sebagai tempat penanaman tanaman.
Cara Menanam Hidroponik Rakit Apung
Alat dan Bahan:
- Satu bak plastik berukuran 50 x 30 x 20 cm (atau sesuaikan dengan kebutuhan)
- Rockwool sebagai media tanam
- Gelas air mineral
- Styrofoam berukuran 50 x 30 cm
- Alumunium foil untuk melapisi styrofoam
- Pisau cutter
- Paku untuk melubangi gelas air mineral
Langkah Pembuatan:
- Potong styrofoam sesuai ukuran bak plastik yang akan digunakan.
- Lapisilah permukaan styrofoam dengan alumunium foil.
- Lubangi styrofoam dengan jarak yang sama untuk setiap lubang. Diameter lubang tersebut harus sesuai dengan diameter bagian tengah gelas air mineral. Lubang ini adalah tempat untuk meletakkan gelas air mineral.
- Sesuaikan ketinggian net pot, biasanya sekitar 5 cm dari dasar bak plastik.
- Isilah bak plastik dengan air yang telah dicampur dengan nutrisi.
- Lubangi dasar setiap gelas air mineral.
- Tempatkan gelas-gelas air mineral ini pada setiap lubang yang telah disiapkan pada styrofoam.
- Putar gelas-gelas tersebut hingga bagian bawahnya menyentuh larutan nutrisi dengan jarak sekitar 5 cm antara dasar gelas dan dasar bak plastik.
- Potong rockwool menjadi ukuran 3 x 3 x 3 cm.
- Buatlah celah pada bagian tengah rockwool menggunakan gunting atau cutter sebagai tempat menaruh bibit tanaman.
- Masukkanlah bibit tanaman anda ke dalam celah pada rockwool.
- Tempatkan rockwool dengan bibit tanaman di dalam gelas air mineral.
- Letakkan bak plastik di tempat yang mendapatkan sinar matahari yang cukup.
- Pastikan akar tanaman tetap terendam dalam larutan nutrisi.
Hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Sukses Menanam Hidroponik Rakit Apung
Setelah berhasil menanam hidroponik rakit apung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Rutin Memantau pH Air
Penting untuk secara rutin mengontrol pH air. Pastikan bahwa pH air tetap berada dalam kisaran 5,5 hingga 6,8. Ini adalah kisaran yang ideal untuk pertumbuhan tanaman dalam sistem hidroponik.
Ketinggian Air
Perhatikan ketinggian air dalam wadah rakit apung. Pastikan bahwa tingkat air tetap sesuai dengan kebutuhan tanaman. Jangan biarkan air terlalu rendah atau terlalu tinggi, sesuaikan dengan petunjuk yang sesuai untuk tanaman yang Anda tanam.
Penggantian Air Nutrisi
Selalu ingat untuk mengganti air nutrisi sekali seminggu. Hal ini akan membantu menjaga kualitas nutrisi yang diserap oleh tanaman agar tetap optimal. Dengan menjaga pH air, ketinggian air, dan penggantian air nutrisi secara teratur, Anda dapat memastikan bahwa tanaman hidroponik rakit apung Anda akan tumbuh dengan baik dan sehat.
Kelebihan Teknik Hidroponik Rakit Apung
- Pembuatan rakit apung hidroponik ini relatif ekonomis. Hidroponik rakit apung hanya memerlukan kolam penampungan air, styrofoam atau bahan serupa, netpot, dan rockwool. Sistem ini tidak memerlukan sejumlah besar peralatan pendukung seperti sistem hidroponik lainnya.
- Perawatannya lebih sederhana. Untuk merawat instalasi ini, Anda hanya perlu menguras dan membersihkan kolam, tidak sekompleks perawatan instalasi hidroponik lainnya.
- Tidak terlalu tergantung pada pasokan listrik. Meskipun sistem rakit apung idealnya menggunakan aerator untuk memenuhi kebutuhan oksigen, ketika aliran listrik terputus, tanaman tetap dapat tetap sehat dan tidak mengalami dehidrasi.
- Biaya operasional lebih terjangkau.
Kekurangan Teknik Hidroponik Rakit Apung
- Rentan terhadap pembusukan akar. Sistem rakit apung mempertahankan sebagian besar akar tanaman dalam air secara terus-menerus, meningkatkan risiko pembusukan akar. Oleh karena itu, pemilihan tanaman yang tahan terhadap kondisi berair seperti kangkung, selada, dan pokcoy sangat penting. Selain itu, solusi untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air dapat dilakukan dengan menggunakan aerator.
- Tidak semua jenis tanaman sayuran yang umumnya ditanam secara hidroponik cocok untuk sistem ini.
- Tidak sesuai untuk tanaman sayuran berbuah seperti tomat, cabe, terong, dan sejenisnya.
- Memerlukan konsumsi air yang lebih tinggi. Sistem rakit apung memerlukan penjagaan air dalam kolam secara konsisten, yang juga berarti kebutuhan nutrisi tanaman akan lebih tinggi secara relatif.
Artikel Terkait
Lihat artikel lain yang mungkin menarik untuk Anda baca.
- 24 Mar 2025Cara Penyemaian Tanaman Hidroponik dan Waktunya
- 24 Mar 2025Kelebihan dan Kekurangan Hidroponik Sistem DFT
- 24 Feb 2025Cara Menanam Bawang Putih Hidroponik Sampai Panen
- 24 Feb 2025Cara Membuat Nutrisi Hidroponik Alami
- 24 Feb 2025Kelebihan dan Kekurangan Hidroponik Sistem Wick
- 26 Dec 2024Cara Menanam Sayuran Hidroponik
- 21 Nov 202410 Alasan Mengapa Anda Harus Mencoba Hidroponik di Rumah
- 06 Nov 2024Timun Hidroponik Solusi Cerdas untuk Hasil Panen Melimpah
- 01 Oct 2024Mengapa Hidroponik Lebih Ramah Lingkungan?
- 13 Sep 2024Hidroponik untuk Tanaman Hias di Dalam Ruangan